Bocah di Desa Cieurih dan Tabir Kasus Sodomi

Bocah di Desa Cieurih dan Tabir Kasus Sodomi

11 Mei, 2014 – 20:21

JAWA BARAT

KUNINGAN, (PRLM).-Berita-berita terkait kasus pelecehan seksual berupa sodomi terhadap anak-anak yang terjadi di Sukabumi, baru-baru ini telah membuka tabir adanya kasus serupa di beberapa daerah lainnya.
Seperti di antaranya di Kota Depok, Kabupaten Cirebon, dan kini mulai terungkap kasus serupa telah terjadi juga di Kabupaten Kuningan dengan melibatkan pelaku dan korban anak-anak yang masih di bawah umur.
Dugaan kasus sodomi di Kabupaten Kuningan baru-bari ini terungkap warga, telah terjadi di Dusun Wage, Desa Cieurih, Kecamatan Cidahu. Menurut Keterangan yang terhimpun “PRLM” dari sejumlah warga di dusun tersebut, kasus sodomi di dusun itu tercatat telah menimpa empat orang korban, dan melibatkan dua orang pelaku.
“Korban maupun dua orang pelakunya masih berusia anak-anak. Semuanya, anak-anak warga di dusun ini,” ujar Uci Sanusi (40) paman dari salah seorang korban kasus tersebut, dibenarkan pula orangtua salah seorang korban lainnya, serta beberapa orang tokoh masyarakat di dusun tersebut Minggu (11/5/2014).
Keempat anak korban sodomi di dusun itu saat ini masih duduk di sekolah dasar, masing-masing berinisial U (10), F (10), R (10), dan J (11). Sementara dua orang anak yang telah mengaku sebagai pelakunya, menurut mereka, berinisial Us (16) siswa kelas I SMK dan Sa (14) siswa kelas II SMP.
Kasus penyimpangan seksual yang kini mengundang keresahan para orangtua anak-anak di dusun itu, menurut mereka terkuak dari celoteh anak-anak yang sedang belajar membaca Alquran, pada Kamis (8/5/2014).
Sementara, menurut pengakuan empat anak yang telah menjadi korbannya, disusul pengakuan dua terduga pelakunya tersebut tadi, tindakan sodomi melibatkan anak-anak tersebut terjadi sekitar dua tahun lalu.
“Pada hari Kamis (8/5/2014) siang, ke-empat anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu, sedang belajar membaca alquran di rumah Pak Kyai Marzuki, seorang guru mengaji di dusun ini. Pada kesempatan itu, Pak Kiyai sempat mengupas sedikit mengenai kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang sedang heboh diberitakan media massa, disertai memberikan nasihat supaya anak-anak didiknya tidak sampai terbius menjadi korban apalagi menjadi pelaku perbuatan seperti itu,” kata Aziz (45) yang juga sebagai salah seorang guru mengaji di dusun tersebut.
Mendengar nasihat itu, tiba-tiba salah seorang murid dalam kelompok pengajian itu yang juga anak kandung Kiyai Marzuki, mengungkapkan bahwa U, F, R, dan J, pernah menjadi korban sodomi.
Saat ditanya oleh Kiyai Marzuki, kala itu pula U, F, R, dan J, tanpa ragu langsung membenarkan serta menuturkan pengalaman buruk yang tekah dialaminya itu.
Atas adanya pengakuan dari anak-anak tersebut, kiai Marzuki pada hari itu pula segera melakukan pendekatan kepada para orangtua anak-anak tersebut, termasuk kepada keluarga dua orang anak yang disebut-sebut sebagai pelakunya tadi.
“Pada hari itu, kedua anak yang menjadi pelakunya pun, segera didekati dan ditanya benar tidaknya telah melakukan perbuatan asusila terhadap anak-anak itu. Dan, kedua anak itu pun ternyata mengakui apa adanya seperti yang diungkapkan oleh anak-anak kami ini yang menjadi korbannya,” kata ayah kandung korban F, Misno (54) didampingi istrinya Eni (35) sambil menggandeng anaknya itu.
Menyikapi itu, para orangtua korban dan orangtua pelaku malam harinya diarahkan bertemu dan bermusyawarah di kantor Desa Cieurih. Muyawarah kedua belah pihak yang disaksikan sejumlah aparat desa pada Kamis malam itu, membuahkan kesepakatan bersama dan dituangkan secara tertulis dalam selembar surat peryataan bermeterai.
Dalam pernyataan bersama itu, berisi beberapa poin di antaranya kedua belah pihak menyadari perbuatan asusila sodomi melibatkan dua pelaku menimpa empat korban anak-anak mereka merupakan musibah dan perbuatan tidak sengaja yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
Kemudian, pihak kedua tidak akan menuntut pelaku ke jalur hukum yang berlaku dan akan menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.
Namun, orang tua dan keluarga korban U dan F, Minggu (11/5/2014) menyatakan berubah pikiran, dan telah merencanakan akan mengadukan kasus pelecehan seksual yang telah menimpa anak-anak mereka itu kepada pihak Kepolisian Resor Kuningan.
Bahkan, orang tua U dan F yang sempat menerima sejumlah uang sebagai “uang damai” dari orangtua pelaku pascamusyawarah, kini telah mengembalikan lagi uang tersebut.(Nuryaman/A-89) pati ***

Powered by WPeMatico