Warga Magelang Ciptakan Sepatu Khusus Penyandang Tuna Netra

Tris Paroyo sedang menunjukkan sepatu khusus Basarnas Kota Magelang. Foto: metrojateng.com/Ch KurniawatiMAGELANG – Berita gembira untuk kaum tuna netra. Sebab kini ada karya sepatu khusus para tuna netra yang dilengkapi dengan sensor. Para penyandang tuna netra kelak akan terbantu dengan alat sensor yang dipasang pada sepatu tuna netra. Penemu sekaligus pembuat sepatu ini adalah Tris Prayogo, Evi Dwi Hastuti, Wahyu Hidayat dan Naskan, yang tinggal di Perum Depkes Blok A4, Kota Magelang.
Ditemui di basecampnya kampung IT, Perum Depkes Blok A4 no 7, Rabu (26/7), Tris menceritakan ide pembuatan sepatu tuna netra. Berawal saat ada salah satu tetangga yang tiba-tiba mengalami kebutaan.  “Kami ingin tetangga yang mengalami kebutaan tidak mengalami kesulitan ketika berjalan. Karenanya, kami menciptakan sepatu ini,” kata Tris.
Cara kerja sepatu ini, kata Tris, cukup sederhana. Dalam sepatu di tanam beberapa sensor untuk mendeteksi penghalang dan lubang di bawah. Bila saat berjalan bertemu dengan penghalang atau lubang, maka sensor itu akan bergetar, sehingga pengguna bisa menghindarinya. “Sensor akan bergetar dengan jarak 30-40 cm di dekat penghalang atau lubang sehingga pemakai bisa menghindarinya,” kata pria kelahiran Medan, 24 Maret 1975 ini.
Sepatu ini belum diproduksi secara massal. Saat inioun, sepatu masih berupa purwa rupa dan baru dibuat untuk sepatu sebelah kiri. Tris mengatakan, sepatu ini masih memerlukan penyempurnaan dan riset lebih lanjut. Sementara, biaya pembuatannya cukup mahal. Untuk sepatu sebelah kiri tersebut, pihaknya menghabiskan Rp 1 juta-Rp 2 juta.
Agar pengembangan dapat berlangsung, temuan ini membutuhkan bantuan, termasuk bantuan pemerintah, dalam bentuk dana maupun pemasaran produknya. ” Produk ini untuk kalangan terbatas dan harganya pun cukup mahal. Mungkin ke depan pemerintah bisa membelinya untuk membantu para tunanetra,” ungkap Tris.
Menurut Tris, pria yang juga seorang blogger ini, sepatu jenis apa saja bisa dipasang alat sensor tersebut. Dalam penggunaan alat sensor, digunakan baterai yang secara otomatis akan mengisi ulang dengan memanfaatkan energi gerak kaki. “Sementara ini baterei masih diisi secara manual dengan cara pengisian mengunakan energi listrik. Ke depan, baterei akan mengisi ulang sendiri ketika pengguna berjalan,” imbuhnya.
Tim Tris kemudian mengikutsertakan karyanya dalam ajang Kreanova tingkat Kota Magelang Maret 2017 lalu, dan menyabet penghargaan di sana. Di kampungnya, Tris juga membentuk Kampung Informasi Teknologi (IT) sejak empat bulan lalu. Kendati masih muda usia kampung tersebut, namun sudah mampu  menelorkan beragam produk berbasis teknologi. Selain sepatu tunanetra, ada temuan lain. Yakni alat pendeteksi kesuburan tanah, dan kentongan digital yang dinamai dengan akronim Kendig.
Sepatu tuna negra telah membawa Walikota Magelang Sigit Widyonindito meraih penghargaan sebagai Walikota Pelopor Inovasi se-Jawa Tengah 2017. Produk inovatif lain yang ikut mendukung, seperti Aplikasi Pemilos (Pemilihan OSIS), miniatur militer dari bahan daur ulang, dan Toyotro Aji (cairan pelapis logam agar berwarna putih).
Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina mengaku bangga atas temuan tersebut dan memberikan apresaisi setinggi-tingginya. “Mengingat Kota Magelang yang hanya memiliki luas 18 kilometer persegi, maka masyarakat harus lebih kreatif. Apalagi sekarang jaman sudah makin maju dan penggunaan IT semakin meningkat,” ujarnya. (MJ-24)
The post Warga Magelang Ciptakan Sepatu Khusus Penyandang Tuna Netra appeared first on METROJATENG.COM: Kabar Berita Jawa Tengah.
Powered by WPeMatico

Powered by WPeMatico